pokoknya HARUS ranking!
Pernah nggak sih mendengar orang tua anda berkata seperti itu? Dengan penekanan dikata harus. Mungkin pernah ya, meskipun jarang. Saya sendiri, agak-agak lupa ingat apakah orang tua saya pernah berkata seperti itu. Tetapi, ketika saya tinggal bersama “Keluarga” saya yang sekarang, kalimat seperti itu saya dengar lagi. Agak gemes sebenarnya. Ketika Ibu dari si N (sebut saja begitu) pulang mengambil rapot anaknya yang baru kelas 1 SD, ia kemudian berkata,”Yah N nggak ranking.. Nggak pinter berarti.” WHAT?!
Maksudnya apaan? Padahal nilai si N ini nggak ada merah.. Mbok ya bersyukur anaknya naik kelas. Yang saya herankan, tidak sedikit pun orang tua ini memberi selamat pada anaknya..
Yang saya pelajari di Psikologi, anak sangat senang dengan adanya reward (Tidak hanya anak, kita pun begitu bukan?) Nggak perlu bentuk materi, cukup dengan ucapan selamat, pelukan hangat sudah cukup membuktikan pada anak bahwa kita menghargai hasil kerja kerasnya ![]()
Kemudian yang paling membuat saya gemas (untuk yang ke sekian kalinya) ketika orang tua ini menelpon saudaranya, kemudian si N disuruh berbicara dengan Om-nya. Ibu si N menyuruh anaknya untuk mengatakan bahwa ia ranking.. Saya yang mendengar pembicaraan itu merasa kesal. Memang sebegitu pentingnya kah ranking dimata beliau?
Sampai harus berbohong, kejadian itu kemudian berulang, si N sendiri bercerita pada orang-orang yang lebih tua kalau dia ranking, tentu dengan ranking yang ia reka-reka. Masya Allah.. Kecil-kecil kok sudah bohong ![]()
Kemudian tadi malam, terlontar lagi kalimat itu,”Ya pokoknya harus ranking dong. Itu baru namanya anak pintar.” Saya sebenarnya kesal sekali dengan kalimat itu. Di kuliah saya, tidak ada penekanan seperti itu. Saya banyak mempelajari bagaimana pendidikan dan kebanyakan dosen-dosen menentang akan ranking dan penekanan seperti itu. Sepertinya terlalu menuntut. Dan tidakkah orang tua yang seperti itu sadar? Bahwa sebenarnya hal-hal yang mungkin dirasa sepele ini bisa menghasilkan psikopat-psikopat kecil.
Ketika si anak merasa tidak mampu dengan apa yang orang tuanya inginkan, ia pasti akan mencoba untuk melakukan apa saja yang penting orang tuanya senang. Contohnya, mencontek. Awal-awalnya ia mencontek pasti ada sedikit rasa bersalah. Namun, ketika hasil yang ia dapatkan sesuai dengan yang diinginkan orang tua, akhirnya ia terus menerus mencontek sampai akhirnya tak ada lagi rasa bersalahnya saat melakukan itu.
Lagipula, intelegensi tidak melulu diukur dari angka-angka itu kan? Bermacam-macam intelegensi yang sepertinya orang tua harus tahu. Contohnya, musical intelligence/kecerdasan dalam bermusik, saya kenal dengan seseorang (P) yang nilainya selalu hancur-hancuran, syukur-syukur dia bisa lulus SMA, tapi urusan dalam bermusik, dia sangat cerdas. Jika memainkan melodi-melodi yang akan dipelajari, dia cukup dengar, kemudian bisa dipraktikkan dengan cepat
Bukankah yang seperti itu bisa disebut dengan anak pintar? Dan setahu saya, justru kecerdasan dalam bermusik adalah yang paling sulit.
Memang susah mengubah pola pikir orang tua yang masih berpatokan bahwa anak yang pintar dalam bidang akademik adalah yang benar-benar pintar. Tapi, saya tahu pasti ada orang tua yang sangat mengerti sampai mana kemampuan si anak dan tidak terlalu menuntut ranking-ranking itu ![]()
Bukan maksud menjelek-jelekkan anak yang selalu mendapat ranking, (jika anak itu benar-benar giat belajar pasti terlihat, mana yang pinter beneran mana yang tidak
) justru saya sangat tidak setuju dengan penekanan-penekanan seperti itu tanpa adanya dukungan dari orang tua. Jika memang si anak tidak dapat ranking, yasudalah toh bukan hanya itu yang diukur. Saya jadi ingat kata dosen Psikologi Pendidikan saya waktu itu :
Kalau udah musimnya bagi rapot, yang ribut masalah ranking malah orang tuanya. Protes sana sini sama gurunya, padahal si anak anteng-anteng saja
Saya sangat mengerti bahwa orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi, terkadang dia tidak sadar bahwa keinginan-keinginan itu jadi beban untuk anaknya.
So, tolong mengerti bagaimana anak anda. Jangan sampai keinginan-keinginan anda, malah menjadi beban untuk si anak ![]()
Suatu kebanggaan orang tua apabila anaknya mempunyai prestasi … mungkin nggak bisa memberikan kemewahan tapi harapan itu lebih membanggakan ketimbang harta
ajengkol
July 13, 2009 at 2:40 pm
benar sekali mbak, memang membanggakan
yang terpenting prestasi itu dicapai dengan jujur, tidak dengan cara curang
putryyy
July 13, 2009 at 2:45 pm
hehehe, yaa emang orangtua kadang2 suka ‘menggunakan’ anak mereka sbg salah satu penaik gengsi. mungkin dengan ranking, si ortu bisa nyeritain ke temen2nya, “eh anak gue pinter lhooo”, pdhl di sisi lain, anaknya positif kena depresi gara2 tuntutan2 itu.. tragis, tapi banyak bgt fenomena itu skrng, makanya kan katanya anak2 skrng jauh lebih stressful, bnyak bgt tuntutan yg hrus mereka penuhin, jdnya mereka capek, mana waktu main juga kurang (mereka tetep butuh main kan gimanapun).
mudah2an yaa tuntutan2 itu gak berdampak buruk, gak maladaptif ke si anak2 ini dan bener2 bisa menjadikan mereka anak2 yg cerdas, amiiinn..
sarahsita
July 13, 2009 at 3:04 pm
ya, aku juga ngerasa gitu sar. beda banget sama masa kecilku dulu, anak jaman skrg, wuih! apalagi model pendidikan yg seperti itu… ditambah pola pikir ortu yang masih tradisional..
amiiiiin semoga saja kejadian di atas ga kita lakukan ke orang2 terdekat/anak kita
putryyy
July 13, 2009 at 3:15 pm
kan skrg kurikulumnya udah ga menuntut ada ranking lagi dear. Kl aku dulu sih nggak dituntut ya, kl papa mama sih kl ranking dikasih hadiah, kl nggak ranking nggak dipukul juga. Kalo aku punya anak nanti sih pengennya biarin aja dia belajar dengan cara dia sendiri, ga ranking ga masalah asal kalau ta tanya pelajaran itu isinya apa dan solusinya gimana dia ngerti. Tp ga tau deh kalo bapaknya (nah lo, siapa bapaknya?)
Kl aku setelah kuliah ini baru nyadar yg ptg bukan hasil akhir, tp proses. buat apa UAS dapet A tp pas mau ngelamar kerja ternyata blank, ga ngerti apa-apa ttg teori
Ajeng
July 13, 2009 at 3:14 pm
kalo dari kasus yang diatas sih, orang tuanya yang masih menuntut adanya ranking.. sekolahnya juga masih ada jenjang2 seperti itu..
buat apa hasil akhir kalau ternyata sama sekali nggak ngerti..
yup setuju banget mbak
putryyy
July 13, 2009 at 3:18 pm
shandyisme
July 13, 2009 at 3:19 pm
setuju san! saya juga melihat begitu. temen2 saya yang ranking justru dia enjoy dengan proses belajarnya, beda dengan yang penuh tuntutan.. haha i wish, saya bisa menerapkannya pada anak saya nantinya
putryyy
July 13, 2009 at 3:21 pm
Tradisi keluarga di Indonesia memang mendahulukan nilai di atas kertas dibandingkan dengan penggalian bakat maksimal yang dimiliki sang anak. Sayang sekali hiks
dhodie
July 13, 2009 at 3:25 pm
dan saya sangat kecewa dengan kasus diatas : mengajari anak berbohong, menyuruh anak u/ mengatakan bahwa ia ranking padahal tidak
hiks
putryyy
July 13, 2009 at 3:27 pm
makanya gw terpikir untuk homeschooling buat anak-anak gw, masalah sosialisasi dan pertemanan, kan gak hanya sekolah sumber sosial… karena homeschooler punya waktu lebih banyak untuk mungkin bersilaturahmi ke panti asuhan dan lain-lain, sekalian mengajarkan bahwa nasibnya jauh lebih baik dari teman-temannya di panti asuhan…
Karena setau gw sekolah terbentuk karena perkembangan zaman dan orang tua sibuk bekerja sehingga gak ammpu lagi menangani pendidikan anak-anaknya secara langsung, tapi kalo ibu-ibu rumah tangga yang di rumah kerjaannya nonton sinetron n ngerumpi, rasanya anaknya gak perlu disekolahin deh… just my opinion Put…
ramadoni
July 13, 2009 at 3:49 pm
saya juga belajar mengenai homeschooling kok shan. ya memang lebih maju dibanding sekolah yang formal… nature school juga bagus
putryyy
July 15, 2009 at 2:41 pm
bener banget put. sampe sekarang, aku masih suka ngeliat orang tua yang menuntut anaknya untuk menjadi yang “terbaik”. dengan mengupayakan berbagai cara untuk mendapat ranking, ato untuk bisa jebol di sekolah/universitas bergengsi di Indonesia.
bagi mereka, anak seperti itulah yang “terbaik”, walopun terkadang mereka ga tau apa yang mereka tuntut itu bisa diterima oleh sang anak atau malah menjadi stressor baru buat si anak ini.
dan sayangnya lagi, kebanyakan orang tua ga peka sama prestasi2 si anak. kalopun ada reward, pasti rewardnya berupa materi. padahal kalo diliat2 reward berupa pujian/motivasi buat si anak, justru lebih bikin anak merasa diakui dan bisa semakin menguatkan ikatan psikologis antara orang tua dan anak.
anyway, nice post, put
liaa
July 13, 2009 at 5:21 pm
setuju li.
PR buat kita nih para calon ibu & psikolog… *lirik shandy*
putryyy
July 14, 2009 at 12:12 am
keknya si ortu hrs belajar lagi caranya jadi ortu deh ..plus dikasih kado buku bermutu bagaimana menjadi ortu
didut
July 13, 2009 at 6:31 pm
jiakakaka aku punya loh mas buku “10 Kesalahan Orang Tua dalam Mengasuh Anak” Kira-kira kalo aku kasih buku itu, gimana ya?
putryyy
July 13, 2009 at 11:59 pm
Padahal di Kurikulum yang sekarang, peringkat atau ranking sudah nggak dipakai lho, dan nggak ada kolom ranking di rapor.
marsudiyanto
July 13, 2009 at 7:42 pm
kok di SDnya adek sepupuku masih ada ya pak… bingung saya
putryyy
July 13, 2009 at 7:43 pm
wah, kq beda2 yak pak? ada yg ranking ada yg gak..
*confused*
Ardy Pratama
July 13, 2009 at 11:39 pm
iya dy, makanya aku juga bingung.. soalnya kmrn orang tua itu ngasih tau kok siapa2 yang ranking..
putryyy
July 13, 2009 at 11:59 pm
Iya nih aku sebagai orang tua juga awalnya beranggapan begitu … tapi setelah saya cernak, ternyata seseorang itu nggak perlu dapat ringking untuk menjadi orang sukses … tapi harus rajin mengolah talenta yang ada pada dirinya …
Wongndeso
July 13, 2009 at 9:17 pm
Ck ck ck… bner2 posingan dri clon iu yg luuarrr biasaaa…. jiakakaakakakaakakkkk!!!!
huah, jd inget masa2 SD dlu deh jadinya pas bagi rapot… btw fllowermu bnyk bgt put! mntabs..
Ardy Pratama
July 13, 2009 at 11:38 pm
ah gayamuuu….
brarti gw smpet terobsesi juga ya, eh tp gapapa kan ga nge bohong….
iya aku jg jadi inget, pas ranking turun langsung nangis2 padahal ortu biasa aja…
hahahaha biasa aja kok
putryyy
July 14, 2009 at 12:01 am
wuuiihhhh…dbles ma snior! riangnya hatiQ.. wkwkwwkwkwkwkw…. sneng bgt deh klo gdain kebongce cuap cuap satu ni… hahahahaha…
iya kah?? pas kpan put? SD? SMP? or SMA? fuiiihh… aq yg gak rngking aja cnge2san put.. wkwkwkkw…
Ardy Pratama
July 14, 2009 at 5:00 pm
Itu ortu jaman kapan yah ?? jaman dulu kali
Raffaell
July 14, 2009 at 5:15 am
ortu kolot tuh hahahaha!
sekarang masih ada ranking, tapi ga dicantumin di rapot,dan cuman sampe ranking 10, di sekolahnya adek-adekku sih.
aku yg ga suka sama sistem sekolah unggulan. kal satu sekolah isinya pinter semua, siapa dong yg bantuin mereka-mereka yg agak kurang dalam menerima pelajaran?
)
uthie
July 14, 2009 at 7:35 am
sebetulnya nilai lebih penting daripada ranking yang bersifat relatif…
tapi, seringkali ranking yang justru lebih memotivasi…
Andy MSE
July 18, 2009 at 7:45 am