14

don’t judge a book by its cover

Ketika saya membaca buku Mazhab Ketiga : Psikologi Humanistik Abraham Maslow yang ditulis oleh Frank G. Goble, saya tergugah ketika membaca beberapa paragraf dibuku itu. Berikut kutipannya :

Ada sebuah ilustrasi yang menyokong pendapat bahwa para ilmuwan profesional bukanlah satu-satunya pihak yang berwenang memecahkan persoalan-persoalan manusia, Maslow mengemukakan sebagai contoh Syannon, sebuah perkumpulan yang dirintis orang-orang yang bukan profesional namun mencapai sukses lebih besar dibandingkan ahli-ahli profesional dalam membantu menyembuhkan korban kecanduan narkotika. Maslow melukiskannya sebagai berikut, “Apa yang ingin kami sampaikan lewat kisah Syannon itu ialah betapa ilmu yang birokratik itu sangat absurd. Di sana bagian-bagian tertentu dari kebenaran harus diberi rumusan “tidak ilmiah”, kebenaran baru sungguh-sungguh benar jika dikumpulkan oleh para “kolektor kebenaran” yang memiliki ijazah yang sesuai dan mengenakan pakaian seragam serta mengikuti metode-metode atau serba upacara yang keramat… Benarkah hanya sang diplomat, penyandang gelar Ph. D., peraih gelar Doktor di bidang kedokteran, sang profesional, yang boleh menjadi arif, berpengetahuan luas, berpikiran tajam, mampu menemukan sesuatu, mampu menyembuhkan? … sungguh-sungguh bijaksana dan bermanfaatkah menuntut bekal pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi sebagai syarat sekian banyak jenis pekerjaan, bukannya menuntut pendidikan, pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan kecocokan yang nyata untuk tiap-tiap jenis pekerjaan?”

Ketika saya membacanya, saya langsung menandainya dengan stabilo kuning. Kalimat-kalimat ini benar-benar membuat saya,“WAH.” Teringat ketika diskusi di plurk.com, masih banyak pekerjaan yang menuntut adanya ijazah dari perguruan ini-itu dengan IPK yang harus tinggi dan bla bla bla. Padahal kita belum tahu sampai dimana kemampuan dia.. Sementara banyak orang-orang yang gagal dengan pendidikan formal mereka, tetapi mereka memiliki keterampilan, pengetahuan, kemampuan yang mungkin nggak mereka dapatkan di sistem pendidikan formal 😉 Seseorang pernah mengatakan,“Experience is the best teacher” 🙂

Advertisements
11

Waktu Terus Berjalan

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu hadir juga.. Nggak kerasa, kayaknya kemarin-kemarin saya baru masuk kuliah, eh tiba-tiba sudah semester IV menuju V, besok tiba-tiba sudah VI, VII, atau bahkan VIII? Who knows? Banyak yang saya pelajari selama kuliah di Jakarta, mulai dari bagaimana cara hidup di Jakarta (Saya rantauan Kalimantan yang jauh dari orang tua). Dimana saya harus belajar hemat, belajar untuk mengatur diri saya sendiri, memotivasi saya untuk belajar (yang tentunya oleh diri saya sendiri juga), termasuk saya belajar bagaimana manusia itu sendiri 😉 Saya harus ingat, disini saya harus belajar & belajar (tapi refreshing juga penting, hehe). Saya nggak mau seperti teman-teman saya yang kebanyakan kaget Jakarta (atau kota-kota besar) kemudian lupa dengan tujuan mereka masing-masing. Saya mencoba untuk tidak seperti itu 🙂

Seperti kata dosen saya tadi siang di mata kuliah Psikologi Humanistik :

Jangan pernah sia-siakan waktu anda. Ciptakan tangga-tangga untuk mencapai impian anda

Jujur, saya jadi merasa tersindir.. Saya kok kadang-kadang suka ngebuang waktu berjam-jam cuma buat maiiiin aja 😆 Saya yang (masih) bercita-cita jadi penulis kok nggak pernah (mencoba) nulis lagi 😦 Semenjak tabungan cerpen-cerpen saya hilang karena laptop di servis 😦 Ah, sepertinya saya nggak boleh kayak gini terus.. saya harus bisa mendorong diri saya untuk bisa mencapai impian itu.. 🙂

Mulai dari yang akan saya hadapi saat ini : Ujian Akhir Semester 😀 Saya harus lebih semangat! Dan selanjutnya, liburan ini paling nggak saya harus bisa nulis 1 cerpen.. Semoga bukan cuma omdo 😆

SEMANGAAATTT!!! 😀

gambar diambil dari sini

15

Sebulan Ini…

Hello hello semua 😀 Akhirnya saya apdet blog lagi, setelah sekian lama blog ini terbengkalai.. 😆 Sebulan ini saya disibukkan oleh bermacam-macam kegiatan. Salah satunya observasi, yang memakan tenaga dan pikiran saya. *tsaaah* Tapi, tugas itu yang paling seru! :mrgreen: Awalnya saya dan temen-temen sekelompok ingin mengadakan observasi ke Panti Jompo. Mau meneliti tentang Kelekatan Lansia dengan Pengasuh di Panti Jompo. Eh, tapi observasi belum dimulai, sayanya udah melempem duluan. Teori-teorinya susaaah. Udah gitu ngurus surat ijinnya musti ke dinas sosial pula. Ribet! 😦

Gayung pun bersambut, si dosen bilang Yayasan nggak bisa ngeluarin ijin buat keluar gitu. Mau nggak mau usaha sendiri. Pas lagi berunding gtu, eh tiba-tiba keinget dengan salah satu blogger.. Criing! Dia kan pernah cerita kalo bundanya punya TK :mrgreen: Akhirnya, saya berunding ma temen-temen, kira-kira mereka mau atau nggak. Akhirnya, temen-temen pun setuju! Ayey! :mrgreen: Dan alhamdulillah, bundanya Ai & Ai setuju kalau TKnya sedikit direcoki, hehe 😛

Singkat cerita, Senin 15 Juni 2009, pas jam 7 pagi kita sudah sampai di TK Nur-Aqidah, di Pasar Minggu 🙂 Satu persatu murid berdatangan, makin lama makin gemes sama murid-muridnya, habis lucu-lucu sih 😛 Yang tadinya partisipan (yang ikut masuk dalam kelas) cuma 2 orang (Saya & Dian), eh temen-temen yang lain pada gemeess, jadinya ikut masuk ke dalam kelas 😆 Ini ada sedikit foto-foto dari TK Nur-Aqidah 😉

DaffaNarsis3 Anak lucuHihihi, yang pasti narsis-narsis-an juga dong ah~ 😆 Btw, gimana temen-temen nggak gemes kalo adik-adiknya lucu beginii.. 😛 Hehe. Tadi saya juga kesana buat minta tanda tangan dari Bundanya Ai. Terharu, ternyata adik-adik masih inget sama saya.. “Temen-temennya kemana bu? Kok mbak Putri aja?” Duh jadi kangen belajar & bermain bersama mereka 🙂 Dan, Alhamdulillah laporannya sudah terkumpul.. Berarti sekarang saatnya fokus sama UAS yang akan datang! 😀 Wish me luck, guys 😉