don’t judge a book by its cover

Ketika saya membaca buku Mazhab Ketiga : Psikologi Humanistik Abraham Maslow yang ditulis oleh Frank G. Goble, saya tergugah ketika membaca beberapa paragraf dibuku itu. Berikut kutipannya :

Ada sebuah ilustrasi yang menyokong pendapat bahwa para ilmuwan profesional bukanlah satu-satunya pihak yang berwenang memecahkan persoalan-persoalan manusia, Maslow mengemukakan sebagai contoh Syannon, sebuah perkumpulan yang dirintis orang-orang yang bukan profesional namun mencapai sukses lebih besar dibandingkan ahli-ahli profesional dalam membantu menyembuhkan korban kecanduan narkotika. Maslow melukiskannya sebagai berikut, “Apa yang ingin kami sampaikan lewat kisah Syannon itu ialah betapa ilmu yang birokratik itu sangat absurd. Di sana bagian-bagian tertentu dari kebenaran harus diberi rumusan “tidak ilmiah”, kebenaran baru sungguh-sungguh benar jika dikumpulkan oleh para “kolektor kebenaran” yang memiliki ijazah yang sesuai dan mengenakan pakaian seragam serta mengikuti metode-metode atau serba upacara yang keramat… Benarkah hanya sang diplomat, penyandang gelar Ph. D., peraih gelar Doktor di bidang kedokteran, sang profesional, yang boleh menjadi arif, berpengetahuan luas, berpikiran tajam, mampu menemukan sesuatu, mampu menyembuhkan? … sungguh-sungguh bijaksana dan bermanfaatkah menuntut bekal pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi sebagai syarat sekian banyak jenis pekerjaan, bukannya menuntut pendidikan, pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan kecocokan yang nyata untuk tiap-tiap jenis pekerjaan?”

Ketika saya membacanya, saya langsung menandainya dengan stabilo kuning. Kalimat-kalimat ini benar-benar membuat saya,“WAH.” Teringat ketika diskusi di plurk.com, masih banyak pekerjaan yang menuntut adanya ijazah dari perguruan ini-itu dengan IPK yang harus tinggi dan bla bla bla. Padahal kita belum tahu sampai dimana kemampuan dia.. Sementara banyak orang-orang yang gagal dengan pendidikan formal mereka, tetapi mereka memiliki keterampilan, pengetahuan, kemampuan yang mungkin nggak mereka dapatkan di sistem pendidikan formal 😉 Seseorang pernah mengatakan,“Experience is the best teacher” 🙂

Advertisements

14 thoughts on “don’t judge a book by its cover

  1. waw! saya pun turut malu put. Sekedar inpo, saya masup di kantor ini pake ijazah S1. Dan ternyata oh ternyata banyak yg pendidikannya cuman D1, tapi lebih jago kemana2, haduuu malu pisan euy…:(

  2. tp sulitnya jaman skrg memang semua pekerjaan dijudge dr overnya dulu 😀

    *merasa beruntung bisa dapet pekerjaan home based office*

  3. Sependapat dengan tuisan Putry, nggak bisa meniai manusia hanya dengan titel atau status belaka.

    Mampir nih lagi blogwalking, salam kenal ya 🙂

  4. Bener. Saya sebenernya kuliah itu cuma dua tujuan : gelar dan kebahagian orang tua.. tiga dink sama prestise haha.. sedangkan pengalaman, relasi dan segala yang didapat pada waktu kuliah adalah proses..

    Sampe 6 taun blum lulus juga tetep aja saya engga ngerti apa yang udah saya pelajari dalam perkuliahan.. haha.. Toh, gelar juga berhenti sebagai gelar.

    Yang penting kemampuan seperti postingan kamu.. Huehehe

    *mencari pembenaran*

    • Yang saya banggakan dari pendapat Maslow adalah dia sendiri seorang Dr. tetapi dia nggak pernah memandang sebelah mata orang2 seperti itu 🙂 Sangat humanistik sekali 😉

  5. Aku setuju banget dengan semuanya karena kelebihan orang itu bukan dari ijazah yang ia dapat ataupun tebalnya buku yang dia bawa,,tapi berasal dari otak kiri dan kanan yang saling terhubung dengan banyak pengetahuan serta pengalaman yang ia dapat,,benar enggak??

  6. kadang kofer menarik memang menipu… dulu saya sering begitu, sekarang selalu cari referensi atau baca sinopsis dulu sebelum memutuskan beli buku…
    saya pernah mbaca buku tentang mekanika kuantum, benar-benar hebat, padahal penulisnya lulusan sekolah ekonomi…
    ternyata, walaupun sekolah itu perlu, mencari ilmu bisa darimana saja…

  7. Jaman sekarang anak S1 dah susah berkembang, apalagi ama anak D3, kadang skill nya ketinggalan jauh, memang sih kadang anak S1 kurang memahami skill teknikal dari D3 itu yang bikin runyam dan ga konek

  8. Setuju….
    Karena pada dasarnya manusia itu abstrak dan tidak bisa dinilai hanya dengan angka-angka dan nilai-nilai. malahan ga jarang angka atau nilai yang mereka dapatkan (terlepas itu baik atau kurang baik) itu bukan sepenuhnya mereka sadari bahwa memang pantas mereka mendapatkannya.

    Jadi, Nilai dan Angka hanyalah ~sedikit~ gambaran bagaimana dan sejauhmana kemampuan yang kita miliki. Tapi kita bisa mengetahui kemampuan kita seutuhnya, ya… saat kita bersentuhan langsung dengan Masyarakat, Pekerjaan dan Dunia.

  9. iya sih, tapi karena saya hidup di lingkungan pendidikan, jadi tingkat perguruan tinggi sudah menjadi tolok ukur keberhasilan atau tidak … semoga pekerjaan saya nantinya bisa sesuai deh, saya takut aja, udah bayar mahal2 gak ada hasil 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s