27

pokoknya HARUS ranking!

Pernah nggak sih mendengar orang tua anda berkata seperti itu? Dengan penekanan dikata harus. Mungkin pernah ya, meskipun jarang. Saya sendiri, agak-agak lupa ingat apakah orang tua saya pernah berkata seperti itu. Tetapi, ketika saya tinggal bersama “Keluarga” saya yang sekarang, kalimat seperti itu saya dengar lagi. Agak gemes sebenarnya. Ketika Ibu dari si N (sebut saja begitu) pulang mengambil rapot anaknya yang baru kelas 1 SD, ia kemudian berkata,”Yah N nggak ranking.. Nggak pinter berarti.” WHAT?! :-O Maksudnya apaan? Padahal nilai si N ini nggak ada merah.. Mbok ya bersyukur anaknya naik kelas. Yang saya herankan, tidak sedikit pun orang tua ini memberi selamat pada anaknya.. :-S Yang saya pelajari di Psikologi, anak sangat senang dengan adanya reward (Tidak hanya anak, kita pun begitu bukan?) Nggak perlu bentuk materi, cukup dengan ucapan selamat, pelukan hangat sudah cukup membuktikan pada anak bahwa kita menghargai hasil kerja kerasnya :)

Kemudian yang paling membuat saya gemas (untuk yang ke sekian kalinya) ketika orang tua ini menelpon saudaranya, kemudian si N disuruh berbicara dengan Om-nya. Ibu si N menyuruh anaknya untuk mengatakan bahwa ia ranking.. Saya yang mendengar pembicaraan itu merasa kesal. Memang sebegitu pentingnya kah ranking dimata beliau? #:-sSampai harus berbohong, kejadian itu kemudian berulang, si N sendiri bercerita pada orang-orang yang lebih tua kalau dia ranking, tentu dengan ranking yang ia reka-reka. Masya Allah.. Kecil-kecil kok sudah bohong :(

Kemudian tadi malam, terlontar lagi kalimat itu,”Ya pokoknya harus ranking dong. Itu baru namanya anak pintar.” Saya sebenarnya kesal sekali dengan kalimat itu. Di kuliah saya, tidak ada penekanan seperti itu. Saya banyak mempelajari bagaimana pendidikan dan kebanyakan dosen-dosen menentang akan ranking dan penekanan seperti itu. Sepertinya terlalu menuntut. Dan tidakkah orang tua yang seperti itu sadar? Bahwa sebenarnya hal-hal yang mungkin dirasa sepele ini bisa menghasilkan psikopat-psikopat kecil.

Ketika si anak merasa tidak mampu dengan apa yang orang tuanya inginkan, ia pasti akan mencoba untuk melakukan apa saja yang penting orang tuanya senang. Contohnya, mencontek. Awal-awalnya ia mencontek pasti ada sedikit rasa bersalah. Namun, ketika hasil yang ia dapatkan sesuai dengan yang diinginkan orang tua, akhirnya ia terus menerus mencontek sampai akhirnya tak ada lagi rasa bersalahnya saat melakukan itu.

Lagipula, intelegensi tidak melulu diukur dari angka-angka itu kan? Bermacam-macam intelegensi yang sepertinya orang tua harus tahu. Contohnya, musical intelligence/kecerdasan dalam bermusik, saya kenal dengan seseorang (P) yang nilainya selalu hancur-hancuran, syukur-syukur dia bisa lulus SMA, tapi urusan dalam bermusik, dia sangat cerdas. Jika memainkan melodi-melodi yang akan dipelajari, dia cukup dengar, kemudian bisa dipraktikkan dengan cepat =D> Bukankah yang seperti itu bisa disebut dengan anak pintar? Dan setahu saya, justru kecerdasan dalam bermusik adalah yang paling sulit.

Memang susah mengubah pola pikir orang tua yang masih berpatokan bahwa anak yang pintar dalam bidang akademik adalah yang benar-benar pintar. Tapi, saya tahu pasti ada orang tua yang sangat mengerti sampai mana kemampuan si anak dan tidak terlalu menuntut ranking-ranking itu :)

Bukan maksud menjelek-jelekkan anak yang selalu mendapat ranking, (jika anak itu benar-benar giat belajar pasti terlihat, mana yang pinter beneran mana yang tidak :)) justru saya sangat tidak setuju dengan penekanan-penekanan seperti itu tanpa adanya dukungan dari orang tua. Jika memang si anak tidak dapat ranking, yasudalah toh bukan hanya itu yang diukur. Saya jadi ingat kata dosen Psikologi Pendidikan saya waktu itu :

Kalau udah musimnya bagi rapot, yang ribut masalah ranking malah orang tuanya. Protes sana sini sama gurunya, padahal si anak anteng-anteng saja XD

Saya sangat mengerti bahwa orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi, terkadang dia tidak sadar bahwa keinginan-keinginan itu jadi beban untuk anaknya.

So, tolong mengerti bagaimana anak anda. Jangan sampai keinginan-keinginan anda, malah menjadi beban untuk si anak :)

Advertisements